Candi Borobudur: Mahakarya Wangsa Syailendra yang Tertidur Ribuan Tahun

euskobizia.com – Bayangkan Anda sedang berjalan menembus hutan belantara Jawa Tengah pada tahun 1814. Udara lembap, suara serangga berdengung memekakkan telinga, dan tanah tertutup semak belukar tebal. Tiba-tiba, di balik rimbunnya pepohonan, Anda melihat sebuah wajah batu raksasa menatap sunyi. Bukan satu, tapi ratusan. Terkubur di bawah lapisan abu vulkanik dan cengkeraman akar pohon beringin, sebuah rahasia besar sedang menanti untuk diungkap.

Itulah momen ketika dunia modern kembali diperkenalkan pada Candi Borobudur. Selama berabad-abad, candi Buddha terbesar di dunia ini menghilang dari peta peradaban, seolah ditelan bumi. Ia bukan sekadar tumpukan batu andesit; ia adalah bukti kejayaan masa lalu, sebuah monumen iman, dan tentu saja, mahakarya Wangsa Syailendra yang tertidur ribuan tahun.

Bagaimana mungkin struktur semegah ini bisa terlupakan? Dan lebih penting lagi, bagaimana nenek moyang kita menyusun 2 juta balok batu tanpa semen hingga bisa bertahan dari gempa dan letusan gunung berapi? Mari kita bedah lapisan demi lapisan sejarahnya.

Ambisi Wangsa Syailendra: Membangun Gunung di Atas Bukit

Pada abad ke-8 dan ke-9 Masehi, Dataran Kedu dikuasai oleh dinasti yang sangat berkuasa: Wangsa Syailendra. Nama “Syailendra” sendiri berarti “Raja Gunung”. Tidak heran jika ambisi arsitektur mereka pun menjulang ke langit.

Dibangun sekitar tahun 750 hingga 825 Masehi, Borobudur bukanlah proyek semalam jadi ala legenda Roro Jonggrang. Pembangunannya memakan waktu hampir satu abad, melintasi beberapa generasi raja. Para ahli memperkirakan, candi ini didirikan sebagai tempat pemujaan sekaligus ziarah untuk memuliakan ajaran Buddha Mahayana.

Fakta mencengangkan: Borobudur dibangun menggunakan lebih dari 55.000 meter kubik batu andesit yang diambil dari sungai-sungai di sekitarnya. Tanpa derek modern atau truk pengangkut, bayangkan betapa kolosalnya tenaga manusia yang dikerahkan saat itu. Ini adalah proyek infrastruktur yang mungkin setara dengan pembangunan piramida di Mesir, namun dengan kerumitan detail ukiran yang jauh lebih halus.

Puzzle Raksasa Tanpa Semen: Teknologi “Interlock” Kuno

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa Borobudur tidak runtuh meski diguncang gempa berkali-kali selama lebih dari seribu tahun? Jawabannya bukan pada semen perekat, karena mereka memang tidak menggunakannya.

Para arsitek kuno (legenda menyebut nama Gunadharma) menggunakan sistem interlocking atau saling kunci. Batu-batu tersebut dipahat dengan presisi tinggi—seperti mainan LEGO raksasa—sehingga satu batu mengunci batu lainnya. Ada tonjolan dan cekungan yang membuat struktur ini fleksibel.

Ketika gempa terjadi, batu-batu Borobudur akan “menari” mengikuti getaran tanah, lalu kembali ke posisi semula (atau bergeser sedikit) tanpa hancur berkeping-keping. Ini adalah bukti kecerdasan teknik sipil Nusantara yang melampaui zamannya.

Kitab Batu Terpanjang di Dunia: Membaca Cerita di Dinding

Borobudur sejatinya adalah sebuah buku raksasa yang terbuka. Jika Anda menyusuri lorong-lorongnya (pradaksina) searah jarum jam, Anda akan disuguhi 2.672 panel relief. Jika dibentangkan, panjang relief ini mencapai sekitar 6 kilometer!

Relief ini bukan sekadar hiasan. Ia adalah komik bisu yang menceritakan ajaran kehidupan.

  • Kamadhatu (Kaki Candi): Menggambarkan dunia hasrat dan hukum karma (sebab-akibat). Sayangnya, bagian ini sebagian besar tertutup oleh struktur penguat kaki candi (batur), menyisakan misteri tentang adegan “vulgar” atau duniawi yang sengaja disembunyikan.

  • Rupadhatu (Badan Candi): Menceritakan kisah hidup Siddharta Gautama dan Jataka (kisah hewan yang mengajarkan moral).

  • Arupadhatu (Puncak Candi): Tingkatan tertinggi di mana wujud dan hasrat hilang, disimbolkan dengan stupa-stupa polos tanpa relief.

Setiap panel dipahat dengan detail yang “mengerikan”. Anda bisa melihat jenis alat musik, bentuk kapal, gaya busana, hingga flora dan fauna Jawa kuno yang terekam abadi di batu.

Mengapa Ia “Tertidur”? Misteri ditinggalkannya Borobudur

Inilah bagian paling tragis dari kisah mahakarya Wangsa Syailendra yang tertidur ribuan tahun ini. Sekitar abad ke-10, pusat kerajaan Medang di Jawa Tengah tiba-tiba dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok.

Teori terkuat menyebutkan bahwa letusan dahsyat Gunung Merapi pada tahun 1006 Masehi menjadi penyebab utamanya. Abu vulkanik mengubur candi, sawah rusak, dan wabah penyakit mungkin menyerang, memaksa penduduk untuk migrasi massal. Borobudur pun ditinggalkan.

Selama berabad-abad, ia berubah menjadi bukit yang ditumbuhi semak belukar, dikenal oleh penduduk lokal hanya sebagai tempat angker yang membawa sial. Hutan tropis “memeluknya” terlalu erat hingga ia hilang dari ingatan kolektif dunia.

Penyelamatan UNESCO: Operasi Plastik Terbesar dalam Sejarah

Ketika Sir Thomas Stamford Raffles (Gubernur Jenderal Inggris) “menemukan” kembali Borobudur pada 1814 berkat laporan warga lokal, kondisinya mengenaskan. Namun, pemugaran sesungguhnya baru terjadi secara masif pada tahun 1973-1983.

Di bawah bendera UNESCO, Indonesia melakukan proyek pemugaran kolosal. Candi ini nyaris dibongkar total. Batu-batu diturunkan, dibersihkan, dan sistem drainase modern disisipkan di dalam bukit untuk mencegah air hujan menggerus tanah di bawah candi. Tanpa intervensi teknologi modern ini, Borobudur mungkin sudah lama longsor dan rata dengan tanah.

Borobudur Hari Ini: Dilema Antara Ibadah dan Wisata

Hari ini, Borobudur menghadapi musuh baru: bukan lumut atau abu vulkanik, melainkan gesekan ribuan alas kaki wisatawan. Batu tangga candi mulai aus karena tergerus jutaan langkah setiap tahunnya.

Pemerintah kini menerapkan aturan ketat. Naik ke struktur candi dibatasi, wajib memakai sandal khusus (upanat) yang lembut, dan didampingi pemandu. Langkah ini mungkin terasa merepotkan bagi turis yang hanya ingin selfie, tapi sangat krusial untuk menjaga kelestarian candi.

Borobudur bukan sekadar background foto. Ia adalah tempat suci yang masih digunakan untuk perayaan Waisak setiap tahunnya, di mana ribuan lampion diterbangkan, menciptakan pemandangan magis yang menghubungkan spiritualitas masa lalu dengan masa kini.

Kesimpulan

Berdiri di stupa induk Borobudur saat matahari terbit, memandang kabut yang menyelimuti perbukitan Menoreh, memberikan sensasi yang sulit dilukiskan kata-kata. Kita diingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan waktu dan alam semesta.

Candi Borobudur adalah bukti fisik bahwa nenek moyang kita memiliki visi, dedikasi, dan kemampuan teknologi yang luar biasa. Ia adalah mahakarya Wangsa Syailendra yang tertidur ribuan tahun, dan kini setelah ia bangun, tugas kitalah untuk memastikannya tidak “mati” karena ulah kita sendiri.

Jadi, jika Anda berkunjung ke sana nanti, berjalanlah dengan perlahan. Hormati setiap batunya. Karena Anda sedang berjalan di atas warisan peradaban yang tak ternilai harganya.