euskobizia.com – Bayangkan jika keindahan simetris yang kita lihat sekarang hanyalah separuh dari rencana besar sang kaisar. Ada desas-desus yang menyebutkan bahwa di seberang sungai, Shah Jahan bermaksud membangun kembaran yang identik, namun dalam warna hitam pekat sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Apakah ini sekadar legenda romantis yang dibesar-besarkan, atau memang ada pondasi yang terkubur di bawah tanah Agra? Kalau dipikir-pikir, bukankah setiap cahaya yang begitu terang pasti menyisakan bayangan yang pekat?
1. Sebuah Janji di Ambang Maut
Kisah Taj Mahal dimulai dari duka yang mendalam. Mumtaz Mahal, istri kesayangan Kaisar Shah Jahan, wafat saat melahirkan anak ke-14 mereka. Di ambang kematiannya, ia meminta sang suami untuk membangun sebuah monumen yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya sebagai lambang cinta mereka. Shah Jahan, yang hancur karena kehilangan, mengerahkan seluruh sumber daya Kekaisaran Mughal untuk memenuhi janji tersebut.
Pembangunan ini melibatkan lebih dari 20.000 pekerja dan pengrajin dari seluruh Asia dan Eropa. Menggunakan marmer putih murni yang dibawa dari Makrana, Rajasthan, Taj Mahal menjadi simbol pengabdian yang tak tertandingi. Namun, di tengah kemegahan marmer putih tersebut, bibit-bibit cerita tentang makam kedua mulai muncul di kalangan masyarakat.
2. Arsitektur Mughal: Puncak Estetika Islam dan India
Secara arsitektural, Taj Mahal adalah pencapaian tertinggi dari gaya Mughal, yang menggabungkan elemen Persia, Turki, dan India. Dirancang oleh arsitek utama Ustad Ahmad Lahauri, bangunan ini adalah studi tentang simetri yang sempurna. Setiap sudut, minaret, dan taman dirancang untuk menciptakan harmoni visual yang menenangkan jiwa.
Fakta Menarik: Menara-menara di sekeliling Taj Mahal sengaja dibangun sedikit miring ke arah luar. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan teknis; jika terjadi gempa bumi, menara tersebut akan jatuh menjauh dari makam utama, sehingga struktur Mumtaz Mahal tetap aman. Inilah bentuk kecerdasan arsitektur masa lalu yang melampaui zamannya.
3. Legenda yang Menghantui: Misteri Taj Mahal Hitam
Inilah bagian yang paling sering memicu perdebatan: misteri taj mahal hitam. Menurut legenda, Shah Jahan berencana membangun replika Taj Mahal yang terbuat dari marmer hitam di seberang Sungai Yamuna, tepatnya di area yang sekarang dikenal sebagai Mehtab Bagh (Taman Cahaya Bulan). Kedua bangunan ini konon akan dihubungkan oleh sebuah jembatan perak.
Legenda ini menyebutkan bahwa Shah Jahan ingin dimakamkan di gedung hitam tersebut agar simetri Taj Mahal putih miliknya tetap terjaga (karena makam Shah Jahan saat ini diletakkan secara asimetris di samping makam Mumtaz). Namun, rencana ambisius ini kabarnya gagal total setelah ia dikudeta oleh putranya sendiri, Aurangzeb, dan dipenjara di Benteng Agra hingga akhir hayatnya.
4. Kesaksian Tavernier dan Interpretasi Barat
Awal mula misteri taj mahal hitam ini banyak dikaitkan dengan tulisan Jean-Baptiste Tavernier, seorang penjelajah asal Prancis yang mengunjungi Agra pada tahun 1665. Dalam catatan perjalanannya, ia menyebutkan bahwa Shah Jahan mulai membangun makamnya sendiri di seberang sungai, namun peperangan dengan anak-anaknya menghentikan proyek tersebut.
Meskipun catatan ini menjadi rujukan utama bagi para pecinta teori konspirasi, banyak sejarawan modern yang skeptis. Bayangkan, biaya untuk membangun Taj Mahal putih saja sudah hampir membuat kas kerajaan terkuras habis. Membangun replika kedua dalam warna hitam yang lebih langka tentu akan terdengar seperti bunuh diri finansial bagi kekaisaran saat itu.
5. Mehtab Bagh: Fakta Arkeologi vs Imajinasi
Pada tahun 1990-an, arkeolog melakukan penggalian besar-besaran di Mehtab Bagh untuk mencari bukti fisik marmer hitam. Apa yang mereka temukan? Ternyata, potongan-potongan marmer yang terkubur di sana bukanlah marmer hitam, melainkan marmer putih yang telah berubah warna menjadi hitam karena reaksi oksidasi dan cuaca selama ratusan tahun.
Insight: Temuan ini sedikit mematahkan teori tentang bangunan fisik hitam. Namun, para ahli memiliki teori baru yang tak kalah menarik. Mehtab Bagh kemungkinan besar memang dirancang sebagai bagian dari kompleks Taj Mahal agar monumen putih tersebut bisa dipandang dari kejauhan saat malam hari melalui pantulan air di kolam taman. Dalam kegelapan malam, bayangan Taj Mahal putih di air sungai memang sering terlihat seperti “Taj Mahal hitam”.
6. Simetri Sempurna yang Melawan Logika
Jika Anda masuk ke dalam ruang utama makam, Anda akan melihat makam Mumtaz berada tepat di tengah, menjaga simetri ruangan. Namun, makam Shah Jahan yang berada di sampingnya justru merusak keseimbangan tersebut. Bagi para pendukung legenda, asimetri ini adalah bukti bahwa posisi Shah Jahan sebenarnya “salah” dan ia seharusnya berada di seberang sungai.
Namun, dari sudut pandang EEAT (Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness), penempatan makam Shah Jahan di samping istrinya sebenarnya adalah tindakan pragmatis dari Aurangzeb untuk menghemat biaya pemakaman ayahnya yang dianggap sudah terlalu boros. Terkadang, alasan politik jauh lebih masuk akal daripada alasan romantis yang dramatis.
7. Merawat Warisan Dunia di Tengah Polusi Modern
Saat ini, tantangan terbesar bagi Taj Mahal bukanlah misteri masa lalunya, melainkan polusi masa kini. Marmer putih yang ikonik mulai menguning akibat polusi udara dan asap industri di sekitar Agra. Pemerintah India telah melakukan berbagai upaya, termasuk penggunaan “masker lumpur” (clay pack) untuk membersihkan noda pada marmer.
Tips bagi Pengunjung: Jika Anda berencana mengunjungi Taj Mahal untuk membuktikan sendiri misteri taj mahal hitam, datanglah saat matahari terbit. Selain udaranya lebih sejuk, Anda bisa melihat gradasi warna marmer dari merah muda, keemasan, hingga putih bersih. Dan jangan lupa menyeberang ke Mehtab Bagh saat senja untuk melihat “bayangan hitam” yang melegenda itu.
Kesimpulan Pada akhirnya, Taj Mahal tetap berdiri sebagai bukti bahwa cinta bisa diwujudkan dalam bentuk fisik yang paling megah di dunia. Meskipun misteri taj mahal hitam mungkin tidak akan pernah terbukti secara arkeologis, legenda tersebut menambah lapisan mistis yang membuat monumen ini semakin menarik untuk dikunjungi. Jika Taj Mahal putih adalah siang hari yang terang, maka bayangan hitamnya adalah malam yang penuh rahasia—keduanya melengkapi narasi tentang kehilangan dan pengabdian.
Jadi, menurut Anda, apakah Shah Jahan benar-benar ingin membangun makam hitam itu, ataukah legenda tersebut hanyalah cara kita untuk menyeimbangkan keindahan yang terasa terlalu sempurna ini?