Mitos “Black Taj Mahal”: Benarkah Ada Rencana Membangun Kembaran Hitam?

euskobizia.com – Bayangkan Anda sedang berdiri di tepian Sungai Yamuna, Agra, saat matahari mulai terbenam. Di hadapan Anda, Taj Mahal yang putih bersih berdiri dengan kemegahan yang sulit dilukiskan kata-kata. Namun, saat Anda menoleh ke seberang sungai, ke arah taman Mehtab Bagh yang sunyi, sebuah pertanyaan menggelitik muncul: mungkinkah di sana seharusnya berdiri sebuah bangunan yang identik, namun berwarna hitam legam?

Legenda ini telah menghantui imajinasi para pelancong dan sejarawan selama berabad-abad. Konon, Kaisar Shah Jahan tidak ingin beristirahat di dalam monumen putih yang ia bangun untuk istrinya, Mumtaz Mahal. Ia dikabarkan berencana membangun replika sempurna berbahan marmer hitam sebagai makam pribadinya sendiri, menciptakan harmoni simetri yang luar biasa di atas aliran air sungai. Namun, benarkah demikian?

Pertanyaan mengenai Mitos “Black Taj Mahal”: Benarkah Ada Rencana Membangun Kembaran Hitam? bukan sekadar bahan obrolan pemandu wisata. Ini adalah teka-teki sejarah yang melibatkan intrik politik keluarga Mughal, obsesi terhadap estetika, dan bukti-bukti arkeologis yang mengejutkan. Mari kita telusuri apakah “Wanita Hitam” ini memang pernah direncanakan, atau hanya sekadar angan-angan romantis para pengagum sejarah.


Catatan Tavernier: Sang Penabur Benih Legenda

Asal-usul cerita ini bisa dirunut kembali ke catatan seorang penjelajah asal Prancis bernama Jean-Baptiste Tavernier. Saat mengunjungi Agra pada tahun 1665, Tavernier menulis sebuah kesaksian yang menggemparkan dunia Barat. Ia menyebutkan bahwa Shah Jahan telah mulai membangun makamnya sendiri di sisi lain sungai, namun pembangunannya terhenti karena ia dikudeta oleh putranya sendiri, Aurangzeb.

Kesaksian Tavernier ini menjadi fondasi utama lahirnya narasi kembaran hitam tersebut. When you think about it, sangat mudah bagi orang-orang pada masa itu—dan bahkan sekarang—untuk mempercayai cerita ini. Shah Jahan dikenal sebagai kaisar yang terobsesi dengan kemegahan dan simbolisme. Sebuah makam hitam yang kontras dengan makam putih istrinya terdengar seperti akhir yang puitis untuk sebuah kisah cinta legendaris.

Insight: Penting untuk diingat bahwa Tavernier sering kali mencatat cerita berdasarkan rumor yang ia dengar di pasar atau istana. Hingga saat ini, tidak ada catatan resmi dari kronik kerajaan Mughal (seperti Badshahnama) yang pernah menyebutkan rencana pembangunan makam kedua tersebut.

Obsesi Simetri yang Menyesatkan

Salah satu alasan mengapa mitos ini terus hidup adalah kejeniusan arsitektur Taj Mahal itu sendiri. Bangunan ini adalah puncak dari prinsip simetri. Segala sesuatunya berpasangan dan seimbang, kecuali satu hal: makam Shah Jahan di dalam ruangan utama. Makam Mumtaz Mahal berada tepat di tengah, sementara makam Shah Jahan diletakkan sedikit di sampingnya, merusak simetri sempurna ruangan tersebut.

Bagi para penganut teori kembaran, ketidakseimbangan ini adalah “bukti” kuat. Mereka berpendapat bahwa Shah Jahan tidak pernah berniat dimakamkan di sana. Ia seharusnya memiliki tempat sendiri. Jika benar Shah Jahan sangat mencintai simetri, mengapa ia membiarkan makamnya merusak tatanan tersebut?

Fakta: Para ahli sejarah seni justru berpendapat sebaliknya. Menurut mereka, penempatan makam Shah Jahan yang tidak simetris itu justru membuktikan bahwa sejak awal ia memang tidak berencana membangun makam terpisah. Jika ia punya rencana besar lainnya, ia pasti sudah menyiapkan desain yang lebih harmonis untuk interior Taj Mahal putih.

Mehtab Bagh dan Misteri Batu Hitam yang Keliru

Selama bertahun-tahun, taman Mehtab Bagh (Taman Cahaya Bulan) yang terletak tepat di seberang Taj Mahal dianggap sebagai lokasi pembangunan yang gagal. Para penggali amatir sering melaporkan penemuan bongkahan batu marmer hitam di area tersebut, yang semakin mengipasi api mitos ini. “Lihat, pondasinya sudah ada!” begitu kira-kira seru para pemandu wisata.

Namun, ilmu pengetahuan modern memiliki jawaban yang lebih membosankan namun akurat. Pada tahun 1990-an, Archaeological Survey of India (ASI) melakukan penggalian besar-besaran di Mehtab Bagh. Hasilnya? Memang ditemukan banyak pecahan batu, namun itu bukanlah marmer hitam.

Analisis: Batu-batu tersebut ternyata adalah marmer putih yang telah berubah warna menjadi hitam akibat oksidasi dan paparan air selama ratusan tahun. Selain itu, desain Mehtab Bagh ditemukan sebagai taman yang berfungsi untuk menikmati keindahan Taj Mahal dari kejauhan, bukan untuk menopang struktur bangunan masif lainnya.

Aurangzeb dan Kas Negari yang Menipis

Mari kita tengok sisi logistiknya. Pembangunan Taj Mahal putih memakan waktu 22 tahun, mempekerjakan 20.000 buruh, dan menguras kas kerajaan dalam jumlah yang sangat fantastis. Imagine you’re Aurangzeb, putra mahkota yang ambisius. Anda melihat ayah Anda terus menghabiskan harta negara untuk monumen, sementara peperangan di perbatasan membutuhkan biaya besar.

Secara politis, sulit bagi Shah Jahan untuk memulai proyek sebesar “Kembaran Hitam” di masa senjanya. Kudeta yang dilakukan Aurangzeb pada tahun 1658 memang mengakhiri kekuasaan ayahnya, namun alasan utamanya adalah perebutan tahta, bukan semata-mata untuk menghentikan pembangunan makam kedua. Kerajaan Mughal saat itu secara finansial mungkin sudah tidak sanggup membiayai proyek raksasa lainnya.

Filosofi “Taman Firdaus” di Bumi

Sejarawan modern seperti E.B. Havell mengusulkan pandangan yang lebih filosofis. Taj Mahal dirancang sebagai representasi taman firdaus di bumi. Dalam konsep ini, simetri tidak selalu harus diartikan sebagai dua bangunan yang identik. Sungai Yamuna sendiri dianggap sebagai bagian dari desain, berfungsi sebagai cermin alami.

Bayangkan keindahan Taj Mahal putih yang terpantul di permukaan air sungai yang tenang pada malam hari. Pantulan itu akan terlihat gelap dan misterius. Inilah yang oleh sebagian ahli dianggap sebagai “Black Taj Mahal” yang sebenarnya—sebuah refleksi visual, bukan struktur fisik. Shah Jahan mungkin merasa pantulan itu sudah cukup mewakili keseimbangan antara dunia nyata dan dunia bayangan.


Kesimpulan

Setelah menelusuri berbagai sudut pandang, jawaban atas Mitos “Black Taj Mahal”: Benarkah Ada Rencana Membangun Kembaran Hitam? tampaknya lebih condong ke arah fiksi sejarah yang indah. Meskipun catatan Tavernier memberikan bumbu misteri, bukti arkeologis di Mehtab Bagh dan logika ekonomi masa itu menunjukkan bahwa rencana pembangunan tersebut kemungkinan besar tidak pernah ada. Ketidakseimbangan makam Shah Jahan di dalam Taj Mahal justru menjadi saksi bisu atas rencana yang memang tidak menyertakan bangunan kedua.

Mitos ini akan terus hidup karena manusia menyukai simetri dan cerita tragis tentang ambisi yang terhenti. Namun, Taj Mahal yang kita lihat sekarang sudah sangat sempurna tanpa perlu kembaran hitamnya. Jadi, saat Anda berkunjung ke sana nanti, apakah Anda akan tetap membayangkan sebuah monumen hitam di seberang sungai, atau justru lebih mengagumi keaslian sejarah yang ada?